Enam Warna Ubin Menurut Desainer Secara Resmi Sudah Kedaluwarsa

28

Memilih warna ubin adalah komitmen jangka panjang. Tidak seperti cat, yang relatif mudah diubah, ubin menentukan warna selama bertahun-tahun. Para desainer setuju: warna-warna tertentu memiliki momennya… dan momen itu telah berakhir. Berikut enam warna ubin usang yang harus dihindari jika Anda menginginkan ruangan yang modern dan bergaya.

Era Kelabu Telah Berakhir

Gray, khususnya “Millennial Grey” yang mendominasi tahun 2010-an, kini terlihat lelah dan mandul. Desainer interior Courtney Batten menjelaskan bahwa penggunaan warna abu-abu yang berlebihan membuatnya terasa artifisial, bukan canggih.

Daripada abu-abu, pilihlah warna netral yang lebih hangat seperti kelabu tua atau krem ​​​​muda. Warna ini menawarkan efek membumi serupa tanpa rasa dingin. Pergeseran ini mencerminkan tren yang lebih luas menuju palet warna yang lebih hangat dan mengundang pada interior.

Navy Blue Kehilangan Daya Tariknya

Meskipun klasik dalam banyak aplikasi, ubin biru tua tidak lagi disukai. Ini telah digunakan secara berlebihan hingga dapat diprediksi. Batten menyarankan teal dalam sebagai alternatif yang lebih kekinian. Teal menawarkan semburat warna serupa dengan sentuhan yang lebih segar dan modern.

Hal ini mengilustrasikan bagaimana warna yang abadi sekalipun dapat menjadi kuno karena saturasi. Kuncinya adalah menemukan alternatif yang terasa unik, tidak umum.

Brown-Beige: Peninggalan Masa Lalu

Ubin coklat-krem tua adalah pilihan tepat untuk rumah yang dibangun pada akhir tahun 1990an dan awal tahun 2000an. Desainer Alice Moszczynski menyebutnya “kurang energi”, sebuah sentimen yang juga dirasakan oleh seluruh industri.

Beralih ke warna kelabu tua atau abu-abu muda untuk warna netral yang lebih modern. Warna-warna ini memberikan kesan bersahaja yang sama tanpa kesan berat. Perubahan ini mencerminkan pergerakan yang lebih luas menuju interior yang lebih terang dan cerah.

Marmer Putih: Dari Ramping hingga Standar

Marmer putih klasik kini dianggap berlebihan. Itu kurang orisinalitas. Batten merekomendasikan travertine atau batu kapur sebagai gantinya. Bahan alami ini menawarkan tampilan batu mewah yang sama tanpa marmer putih yang dapat diprediksi.

Penurunan harga marmer putih menunjukkan betapa cepatnya tren berubah. Apa yang tadinya terlihat mewah kini terasa lumrah.

Hitam: Kelelahan Kontras Tinggi

Ubin hitam, terutama pada bentuk metro populer, telah kehilangan keunggulannya. Desainer Daniela Gottschalk mencatat bahwa warna hitam, putih, dan abu-abu semakin memudar. Hitam juga tidak praktis di area basah, karena tanda air dan sidik jari mudah terlihat.

Namun, ubin kotak-kotak hitam-putih tetap populer di dapur dan lorong. Kuncinya adalah menggunakan warna hitam secara strategis, bukan sebagai solusi menyeluruh.

Alpukat Hijau: Kesalahan Nostalgia

Alpukat hijau, yang pernah menjadi makanan pokok di dapur tahun 1970-an, kini dianggap berat dan ketinggalan jaman. Moszczynski menyarankan warna hijau sage atau warna zaitun yang diredam. Warna-warna yang terinspirasi dari alam ini sedang tren, menawarkan sentuhan hijau segar tanpa tampilan kuno.

Peralihan dari warna hijau alpukat mencerminkan keinginan yang lebih luas untuk skema warna yang lebih alami dan tidak terlalu mencolok. Interior masa kini lebih mengutamakan ketenangan daripada estetika retro.

Memilih warna ubin memerlukan kejelian. Apa yang tampak modern saat ini mungkin akan terasa kuno di kemudian hari. Desainer menyarankan untuk memilih warna netral yang lebih hangat, alternatif unik, dan material alami yang tak lekang oleh waktu untuk menciptakan ruang yang tahan terhadap ujian waktu.