Jatuhnya Kekaisaran Aztec: Keruntuhan yang Dibentuk dalam Aliansi dan Penyakit

7

Kekaisaran Aztec, yang mendominasi Meksiko tengah pada awal abad ke-16, jatuh dengan sangat cepat setelah melakukan kontak dengan orang Eropa. Alasan dibalik keruntuhan ini bukan hanya karena penaklukan Spanyol; sebaliknya, interaksi yang rumit antara peperangan, penyakit, dan yang terpenting, perubahan aliansi dengan kelompok masyarakat adat yang sudah membenci pemerintahan Aztec.

Kedatangan Spanyol dan Aliansi Awal

Pada tahun 1519, Hernán Cortés menentang perintah dari Kuba dan memimpin ekspedisi ke pedalaman dari Vera Cruz. Ini bukanlah upaya tunggal. Cortés secara aktif mencari dan menerima dukungan dari berbagai komunitas Pribumi yang telah lama menderita akibat tuntutan upeti dan praktik brutal pengorbanan manusia dari Kekaisaran Aztec. Kelompok-kelompok ini memandang Spanyol bukan sebagai pembebas, namun sebagai mitra potensial dalam menggulingkan rezim yang sangat menindas.

Suku Aztec menguasai wilayah yang luas melalui kekerasan dan ekstraksi. Banyak bangsa yang ditaklukkan sangat ingin membebaskan diri, dan Cortés memanfaatkan ketidakpuasan ini. Aliansi ini terbukti penting: tanpa ribuan pejuang Pribumi yang berperang bersama Spanyol, penaklukan Tenochtitlán akan jauh lebih sulit, bahkan mustahil.

Eskalasi dan Kekerasan di Tenochtitlán

Cortés dan sekutunya awalnya diizinkan masuk ke ibu kota Aztec, Tenochtitlán, dengan perlawanan yang relatif kecil. Bertentangan dengan beberapa mitos, tidak ada bukti yang dapat dipercaya bahwa suku Aztec salah mengira Cortés sebagai dewa yang kembali. Namun, situasinya dengan cepat memburuk. Pada tahun 1520, ketika Cortés untuk sementara absen, pasukan Spanyol di bawah pimpinan Pedro de Alvarado membantai bangsawan Aztec selama festival keagamaan, sehingga memicu pemberontakan besar-besaran.

Kemunduran Spanyol yang terjadi kemudian, yang dikenal sebagai La Noche Triste (“Malam Sedih”), merupakan bencana berdarah bagi bangsa Eropa. Meskipun menderita kerugian besar, Cortés berkumpul kembali dan kembali dengan pasukan Pribumi yang lebih besar, siap untuk serangan terakhir.

Senjata Senyap: Cacar

Meskipun persenjataan dan baju besi Spanyol yang unggul berperan, faktor yang paling menghancurkan adalah masuknya penyakit cacar. Penyakit Dunia Lama ini belum pernah ada di benua Amerika dan menyebar dengan cepat melalui Kekaisaran Aztec yang berpenduduk padat. Epidemi ini menewaskan banyak orang, termasuk Kaisar Moctezuma, bahkan sebelum pengepungan terakhir dimulai.

Suku Aztec dihancurkan bukan hanya karena pertempuran, namun juga karena senjata biologis yang tidak dapat mereka lawan. Hal ini melemahkan struktur militer dan sosial mereka hingga mencapai titik kehancuran.

Pengepungan dan Warisan Terakhir

Setelah pengepungan brutal selama 75 hari, Tenochtitlán jatuh pada Agustus 1521. Kota ini dihancurkan secara sistematis dan dibangun kembali menjadi Mexico City, ibu kota baru Spanyol Baru. Jatuhnya Tenochtitlán menandai berakhirnya kekuasaan Aztec dan membuka era baru dominasi Spanyol.

Runtuhnya kekaisaran bukan hanya soal kekuatan militer; ini tentang mengeksploitasi ketegangan internal yang ada dan menyebarkan penyakit yang menghancurkan masyarakat Aztec dari dalam. Kombinasi brutal ini menjamin kemenangan cepat dan menentukan bagi Spanyol dan sekutu Pribumi mereka.